Buku Kedua - Persembahan Untuk Ibu (Kumpulan Cerpen)




  • Judul                          : PERSEMBAHAN UNTUK IBU                                            (Kumpulan Cerpen)
  • Pengarang                   : Fredy
  • Cetakan Kedua           : Mei 2008
  • Penerbit                     : Diamond Publishing
  • Tebal                        : 60 halaman
  • ISBN                         : 978 – 978 – 17751 – 0 – 6
  • Harga                        : Sold Out

            Ibu…
            Sudah cukup banyak lirik, cerita, kisah yang telah menggelegar hingga banyak orang menjadi bosan. Sebuah fatamorgana yang begitu cepat berlalu begitu saja. Setelah itu semua kembali berjalan sebagimana mestinya.
            Seorang Ibu melahirkan dan mengajarkan anaknya berjalan hingga mampu berlari, saat anakanya sudah mampu berlari, ia sendiri yang ditinggalkan. Ironis, tapi entahlah apakah seorang Ibu selalu menangis dan menjerit di dalam setiap doanya setiap malam. Apakah ia benar-benar setegar saat ia tersenyum ke anaknya?
            Saat seorang anak telah menjadi dewasa, ia bahkan telah lupa menceritakan kepada teman-temannya bahwa ia memiliki seorang Ibu yang begitu hebat. Mungkin hanya sekedar ajak berjalan saja, lebih menyenangkan dengan sahabat-sahabat yang bisa membuat kita berjingkrak-jikrak di jalanan.
            Begitu sulitnya mengucapkan “I Love You, Mom”, begitu menjadi tidak penting untuk mengatakan “Nak, Ibu selalu mencintaimu”. Bahkan setiap tahunnya selalu ada berita pertikaian antara anak dan Ibu. Sudah begitu ya? Bagaimana perasaan bagi mereka yang tidak memiliki Ibu dan setiap malam selalu menangis meminta dengan Tuhan agar bisa melihat senyum dan menyentuh pipi Ibunya? Bagaimana seorang wanita yang begitu merindukan untuk menjadi sempurna dengan dipanggil “Ibu”? Bahkan banyak yang berjuang dan mengorbankan seluruh hartanya agar memiliki seorang anak.
            Semua itulah yang menjadikan saya ingin menuliskan kepada para Ibunda di manapun berada, “we are your children and will always miss you”. Menggaungkan kepada para remaja bahwa “betapa cantiknya senyuman seorang Ibu” meskipun kadang tidak menyenangkan hati kita, tapi saat mereka menutup mata dan tak pernah terbuka lagi, betapa sakitnya rindu ini menyiksa kalbu kita yang lemah.  

0 komentar:

Poskan Komentar